Rabu, 17 Desember 2014

Katana dan Semua yang Tidak Seperti Kelihatannya

Sebilah katana ternyata cukup berat. Sosok samurai heroik dalam anime-anime jepang yang 'terlihat' dengan enteng mengayunkan katana ternyata begini kuat ya. Bagaimana tidak? Pedang ini  panjang dan berat. Jelas sekali perlu tenaga besar dan latihan panjang untuk mengendalikannya dengan lincah.

Di tangan pemain pedang handal, katana bisa menjadi senjata mematikan yang mampu memotong daging dan tulang sekali tebas. From neck to groin by a single cut. Sebuah senjata yang kata Shimmen Miyamoto Musashi -merupakan karya seni sekaligus pembawa maut-. Katana bagus memang indah, cantik, kuat serta tajam. Yang full tang dan berkualitas tinggi bahkan mampu memotong paku besi. Lain halnya dengan katana abal-abal yang mungkin saja nampak megah tapi hanya  pajangan belaka. Untuk menebas botol air pun mungkin tak bisa. Katana tak seperti kelihatannya. Yang bersarung sederhana dan polos bisa jadi katana sejati. Yang bersarung megah mungkin saja palsu dan dekoratif belaka. Perlu meneliti dan mengujinya .Cutting Test.

Ternyata, untuk sekedar mengayun katana dari atas ke bawah diperlukan kontrol tubuh yang bagus. Dan itu hanya bisa didapat melalui latihan. Tidak seperti kelihatanya.Bagaimana menghasilkan tebasan lurus-tanpa melenceng sedikitpun-, bagaimana memegang katana dengan benar. Bagaimana mengayunkannya dengan cepat namun terkontrol -tidak bablas mengenai kaki-. Semua ada teknik dan latihannya. Tidak semudah di anime-anime itu. Semua  tidak seperti kelihatannya. Dan mereka yang setia dengan latihannya-lah yang berhasil. Mereka yang menempuh semua tahapannya-lah yang akan sampai pada tingkat akhir.

Banyak yang tidak seperti kelihatannya

Banyak yang tampak mudah padahal sungguh sulit

Banyak juga yang tampak sulit padahal begitu mudah

Banyak yang terlihat rajin padahal pemalas

Banyak yang terlihat alim padahal hanya jaim

Teliti dan Uji, 

Senin, 14 Oktober 2013

Mata Anak Panah Pertama

Sore ini aku senang sekali. Akhirnya satu anak panah benar-benar selesai dibuat. Komponen yang terakhir, yaitu mata anak panah (arrowhead) berhasil keperoleh di bengkel las Condong Catur. Cukup lama mencari bengkel las yang mampu membuatkannya. Dua bengkel las yang kukunjungi angkat tangan. Mereka adalah bengkel las yang dioperasikan oleh orang-orang tua. Nampaknya semangat mereka ikut menua bersama usianya hingga tak tertantang membuatkan mata anak panah pesananku.

Bengkel las terakhir yang kukunjungi ini berbeda. Dengan karyawan yang masih muda dan penuh semangat. Tertantang dengan pesananku. Bisa ditunggu mas, katanya. Wow, ini baru semangat. Semangat menemukan semangat. Batangan besi dipanaskan hingga membara. Tak perlu waktu lama, sekitar 5 detik langsung memerah batangan besi itu. Begitu memerah, palu sang tukang las langsung bermain lincah memipihkan batang besi yang membara. Setelah beberapa kali dipukul-pukul, ujung batang besipun gepeng. Mas-mas tukang las langsung memotong ujung batang besi dan membentuknya seperti desain ujung anak panahku. wow, cepat sekali.

Semangat menemukan semangat. 

Terus bergerak mewujudkan mimpi.

Sejak kecil aku suka sekali dengan anak panah dan busur. Bisa dibilang passion atau obsesi masa kecil. dan kini, di Jogja, aku menemukan jawabannya. Bila dulu aku bermain dengan busur bambu buatan sendiri, kini sudah berkesempatan menembakkan panah dengan busur yang sesungguhnya. Aku ingin membuat anak panah dan busur lalu kuhadiahkan ke orang-orang terdekat. Terdengar kurang kerjaan memang di tengah kesibukan pendidika profesi malah mainan panah dan keluyuran mencari bengkel las. Haha, tapi inilah passion. Sesuatu yang aku banget sejak kecil. Dan sampai sekarang, aku bersyukur telah mengenal panah. Terkadang saat lelah dan sedih, aku melepas kesedihan dengan memanah. Berharap rasa sedih ikut hilang mengikuti lepasnya anak panah dari busurku. Dengan memanah, aku menemukan kembali diriku. Ya, I'm an archer.

Semoga anak panah-anak panah lainnya segera menyusul. Dengan fleching bulu, bukan lakban seperti yang sekarang, hahaha. Semoga bisa membuat busur nantinya. Busur tradisional dengan desain seperti busur turki atau mongol. Hopefully.

Jumat, 01 Februari 2013

Salam


Selamat datang di blog Arbor Livia.  Arbor livia berarti pohon kehidupan, kata yang saya ambil dari teksbuk fisiologi manusia Saladin untuk menyebutkan penampakan  otak kecil manusia yang tampak seperti pohon. Laiknya pohon yang terus tumbuh dan memberi manfaat  bagi sekitarnya, semoga  blog ini bisa menjadi sarana berbagi ilmu, hikmah, dan pengalaman hidup.